
Dalam era digital yang makin terkoneksi, e-commerce berkembang pesat melintasi batas negara dan budaya. Namun, di balik pertumbuhan tersebut, muncul tantangan mendasar: apakah desain antarmuka (user interface) e-commerce yang digunakan saat ini benar-benar ramah bagi semua budaya?
Pertanyaan inilah yang mendorong tim dosen dari Program Studi Teknik Informatika Universitas XYZ untuk melakukan penelitian mendalam berjudul “Kajian User Acceptance terhadap Antarmuka E-Commerce dalam Konteks Lintas Budaya”. Penelitian ini diketuai oleh Agus Setiawan, bersama dua anggota tim yaitu Pristi Sukmasetya dan Annisa Azhar Suryaningtyas.
Penelitian ini bukan sekadar inisiatif lokal. Proyek ini berhasil lolos pendanaan kompetitif dari Kementerian Pendidikan Tinggi dan Saintek, sebagai bagian dari program hibah nasional untuk mendukung riset strategis di bidang sains dan teknologi.
Latar Belakang: Antarmuka E-Commerce Masih Didominasi Budaya Barat
Meskipun banyak platform e-commerce telah menjadi pemain global, sebagian besar desain antarmukanya masih mengacu pada standar Barat. Padahal, budaya pengguna sangat berpengaruh terhadap cara mereka menilai kemudahan, kenyamanan, bahkan rasa percaya terhadap suatu sistem. Antarmuka yang tidak mempertimbangkan konteks budaya lokal bisa menimbulkan kebingungan, mengurangi kepercayaan, dan pada akhirnya memengaruhi keputusan pembelian.
Hal inilah yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini—untuk memahami bagaimana faktor budaya memengaruhi user acceptance terhadap antarmuka e-commerce, dan bagaimana desain bisa disesuaikan untuk menjawab kebutuhan lintas budaya.
Rencana Penelitian: Dua Tahun, Dua Tahap, Satu Tujuan
Penelitian ini dirancang berlangsung selama dua tahun dengan pendekatan mixed-method yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif.
- Tahun Pertama, tim fokus pada menganalisis hubungan antara dimensi budaya Hofstede dengan persepsi pengguna terhadap kemudahan penggunaan (perceived ease of use) dan kemanfaatan sistem (perceived usefulness), berdasarkan model Technology Acceptance Model (TAM). Survei kuantitatif dilakukan secara lintas budaya, dan data dianalisis menggunakan metode statistik Structural Equation Modeling (SEM).
- Tahun Kedua, penelitian dilanjutkan dengan pendekatan praktis melalui pengujian langsung antarmuka e-commerce menggunakan data UX, heatmaps, serta task performance analysis. Tim akan membandingkan berbagai desain antarmuka yang telah disesuaikan secara budaya, lalu menganalisis bagaimana desain tersebut memengaruhi pengalaman pengguna (UX), reaksi emosional, dan tingkat kepuasan. Pendekatan kualitatif juga digunakan untuk menangkap narasi dan konteks pengalaman pengguna.
Sebagai studi kasus, tim memilih platform e-commerce terbesar di dunia, yaitu Amazon, untuk melihat bagaimana desain globalnya direspons oleh pengguna dari budaya yang berbeda-beda.
Dampak dan Harapan
Melalui penelitian ini, tim berharap dapat memberikan rekomendasi konkret bagi para pengembang e-commerce—baik nasional maupun internasional—dalam merancang antarmuka yang tidak hanya fungsional, tapi juga sensitif terhadap nilai dan preferensi budaya lokal.
Penyesuaian antarmuka berbasis budaya bukan hanya soal estetika, tapi juga menyangkut kenyamanan, kepercayaan, dan loyalitas pengguna. Di era global saat ini, memahami hal tersebut menjadi kunci untuk membangun platform digital yang benar-benar inklusif.
Program Studi Teknik Informatika bangga dapat menjadi bagian dari riset yang tidak hanya menjawab kebutuhan akademik, tetapi juga berdampak luas bagi dunia industri digital global. Kami akan terus mendukung dosen-dosen kami dalam menciptakan karya riset unggul dan relevan dengan tantangan zaman.
